Pengembangan Teknologi 8

Senin, 14 Juni 2010 04.57 Diposkan oleh FERRY BLOG
Secara umum, Web 1.0 dikembangkan untuk pengaksesan informasi dan memiliki sifat yang sedikit interaktif.Secara garis besar, sifat Web 1.0 adalah Read.

Lalu, tak lama kemudian muncullah Web 2.0 yang merupakan revolusi bisnis di industri komputer yang disebabkan oleh penggunaan internet sebagai platform, juga merupakan suatu percobaan untuk memahami aturan untuk mencapai keberhasilan platform baru.Sifat Web 2.0 adalah Read-Write.

Era Web 2.0 tidak membutuhkan orang jenius yang hanya berkutat sendiri di ruang tertutup atau laboratorium untuk membuat teknologi baru yang dipatenkan agar membuat dirinya menjadi terkenal. Tapi era ini lebih membutuhkan orang untuk saling berbagi ilmu, pengalaman atau lainnya sehingga terbentuk komunitas online besar yang menghapuskan sifat-sifat individu.

Sedangkan letak perbedaan Web 1.0 dan Web 2.0 yaitu :

1. Perilaku pengguna Membaca (Web 1.0) Menulis

2. Pelaku utama Perusahaan Pengguna/Komunitas

3. Hubungan dengan server Client-server Peer to peer

4. Bahasa pemrograman penampil konten HTML XML

5. Pola hubungan penerbit-pengguna Searah Dua arah/ Interaktif

6. Pengelolaan konten Taksonomi/direktori Folksonomi/penanda/tag

7. Penayangan berbagai kanal informasi Portal RSS/Sindikasi

8. Hubungan antar pengakses Tidak ada Berjejaring

9. Sumber konten Penerbit/pemilik situs Pengguna

Yang menjadi kunci perbedaan dalam Web 2.0 dan Web 1.0 adalah keterbatasan pada Web 1.0 yang mengharuskan pengguna internet untuk datang ke dalam website tersebut dan melihat satu persatu konten di dalamnya.Sedangkan Web 2.0 memungkinkan pengguna internet dapat melihat konten suatu website tanpa harus berkunjung ke alamat situs yang bersangkutan.Kemampuan web 2.0 dalam melakukan aktivitas drag and drop, auto complete, chat, voice dapat dilakukan layaknya aplikasi desktop.

Selanjutnya adalah Web 3.0, jika dunia seluler dikenal istilah 3G, maka di Internet ada yang namanya Web 3.0. Wow, apa pula ini? Apa bedanya dengan Web 2.0 yang sekarang sedang marak? Jangan salah, ternyata orang Indonesia juga sudah ada yang mengembangkannya.

Konsep ini dapat diandaikan sebuah website sebagai sebuah intelektualitas buatan (Artificial Intelegence).Aplikasi – aplikasi online dalam website dapat saling berinteraksi, kemampuan interaksi ini dimulai dengan adanya web service.

Di web 3.0 ini, sudah terjadi konvergensi yang sangat dekat antara dunia TI dengan dunia telekomunikasi. Dunia web dan telco berkembang pesat seiring dengan kebutuhan pengguna. Penggunaan perangkat TI dan telekomunikasi nantinya sudah seperti sama saja tidak ada bedanya. Saat ini saja pertanda seperti itu sudah mulai bisa kita rasakan walaupun masih belum sempurna. Kita bisa menonton tivi di ponsel atau komputer, bisa mengakses internet di ponsel, bisa melakukan SMS dan telepon dari komputer. Ya karena konvergensi terhadap berbagai perangkat seperti hukum alam yang tidak bisa dielakkan. Semua mengalami evolusi menuju dunia yang lebih maju.

Saat ini adaptasi Web 3.0 mulai dikembangkan oleh beberapa perusahaan di dunia seperti secondlife, Google Co-Ops, bahkan di Indonesia sendiri juga sudah ada yang mulai mengembangkannya, yaitu Li’L Online (LILO) Community.

Permasalahan lain yang potensial muncul adalah, sebagai teknologi masa depan, Web 3.0 juga membutuhkan kecepatan akses Internet yang memadahi dan spesifikasi komputer yang tidak enteng, hal ini disebabkan tak lain karena teknologi ini secara visual berbasis 3D. Sedangkan seperti yang kita tahu biaya akses Internet dengan kecepatan tinggi di Indonesia ini masih terbilang mahal bagi masyarakat umum. Belum lagi jika dihitung dari biaya spesifikasi perangkat komputer yang dibutuhkan, mungkin masyarakat Indonesia yang ingin menikmati kecanggihan layanan berbasis teknologi Web 3.0 masih harus menarik nafas penjang. Namun karena Web 3.0 sendiri masih dalam pengembangan, seiring dengan berlalunya waktu sebagai masyarakat Indonesia kita masih bisa mengharapkan bahwa biaya komunikasi, dalam hal ini koneksi Internet kecepatan tinggi akan semakin murah nantinya, sehingga terjangkau bagi masyarakat luas.
randy blog

Mengenai teknologi web 1.0; web 2.0; web 3,0
Radarnetworks.com menggambarkan perkembangan teknologi wab dari masa ke masa. Didalamnya dijelaskan bahwa Web 3.0 ada pada kurun waktu 2010 s.d. 2030, sedangkan Web 2.0 adalah teknologi web yang sedang berjalan pada saat ini, dia ada pada kurun waktu 2000 – 2010.
Awalnya, web masih mengandalkan halaman statis dari tag-tag HTML sehingga pengunjung hanya dapat mencari (searching) dan melihat-lihat (browsing) informasi-informasi yang ada pada web. Teknologi web ini dikenal dengan web 1.0 dimana memiliki ciri-ciri umum yang mencolok yaitu consult, surf dan search.
Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin maju, inovasi dalam dunia web semakin hari semakin mengalami perkembangan yang berarti. Ini dibuktikan dengan adanya Teknologi Web 2.0 dimana istilahnya untuk pertama kali dicetuskan pada tahun 2003 oleh O’Reilly Media, dan dipopulerkan pada konferensi web 2.0 pertama di tahun 2004. O’Reilly Media berkolaborasi dengan MediaLive International mempopulerkan istilah ini dalam berbagai konferensi sejak 2004, sehingga kemudian istilah ini semakin dikenal. Karena itulah mengapa istilah ini kemudian terkenal, dan seakan kemudian istilah ini merujuk pada suatu versi baru, atau babak baru di dunia web. Namun secara teknis istilah ini mengacu pada suatu pembaharuan, padahal sebenarnya tidak ada pembaharuan yang berarti pada proses teknisnya.
Menurut Wikipedia, yang menjadi kunci perbedaan dalam Web 1.0 dan Web 2.0 adalah keterbatasan pada Web 1.0 yang mengharuskan pengguna internet untuk datang ke dalam website tersebut dan melihat satu persatu konten di dalamnya. Sedangkan Web 2.0 memungkinkan pengguna internet dapat melihat konten suatu website tanpa harus berkunjung ke alamat situs yang bersangkutan. Selain itu, kemampuan Web 2.0 dalam melakukan aktivitas drag and drop, auto complete, chat, dan voice seperti layaknya aplikasi desktop, bahkan berlaku seperti sistem operasi, dengan menggunakan dukungan AJAX atau berbagai plug-in (API) yang ada di internet. Hal tersebut akan merubah paradigma pengembang sofware dari distribusi produk menjadi distribusi layanan. Sedangkan karakter lainnya, kolaborasi dan partisipasi pengguna, ikut membantu memperkuat perbedaan pada Web 2.0. Suatu website dapat saja memasukkan beberapa bahkan tujuh karakter Web 2.0 di dalam situs yang dibangunnya. Semakin banyak karakter yang masuk ke dalam website tersebut, suatu situs akan mendekati Web 2.0.
Aplikasi Web 2.0 disajikan secara penuh dalam suatu web browser tanpa membutuhkan teknologi perangkat yang canggih dari sisi user. Tidak mengherankan bila suatu aplikasi (software) dapat diakses secara online tanpa harus menginstalnya terlebih dahulu. Software tersebut misalnya software pengolah kata (seperti MS Word) atau software pengolah angka (seperti MS Excel).
Suatu web 2.0 biasanya digunakan sebagai akhir dari siklus peluncuran produk software, mengilustrasikan setiap produsen software tidak lagi meluncurkan produknya dalam bentuk fisik. Karena web menjadi platform, pengguna cukup datang ke website untuk menjalankan aplikasi yang ingin mereka gunakan. Hasil dari pengembangan fitur di dalam software dapat langsung dirasakan oleh pengguna. Software tidak lagi dijual sebagai produk namun berupa layanan (service).


Hingga kemudian muncul era yang lebih baru lagi yaitu Web 3.0. Teknologi Web generasi ketiga yang pertama kali diperkenalkan tahun 2001 ini memiliki ciri-ciri umum seperti suggest, happen dan provide, dimana disini web seolah-olah sudah seperti kehidupan di alam nyata.
Web 3.0 sendiri juga merupakan sebuah realisasi dari pengembangan sistem kecerdasan buatan (artificial intelegence) untuk menciptakan global meta data yang dapat dimengerti oleh sistem, sehingga sistem dapat mengartikan kembali data tersebut kepada pengunjung dengan baik.
Saat ini adaptasi Web 3.0 mulai dikembangkan oleh beberapa perusahaan di dunia seperti secondlife, Google Co-Ops, bahkan di Indonesia sendiri juga sudah ada yang mulai mengembangkannya, yaitu Li’L Online (LILO) Community.
Dalam era web 3.0, pengembangan aspek sosial sebuah web mulai dipertimbangkan. Aspek sosial yang dimaksud, terutama adalah aspek interaksi. Bagaimana sebuah web dapat memberikan sebuah interaksi sesuai dengan kebutuhan informasi setiap pemakaianya, merupakan sebuah tantangan utama dikembangkannya versi Web 3.0 ini. Walaupun hanya bersifat virtual 3D, namun ternyata banyak yang mengharapkan perkembangan teknologi web ini dapat memenuhi kebutuhan setiap bidang informasi, bahkan setiap orang yang mengunjunginya.
Sebagai teknologi masa depan, Web 3.0 juga membutuhkan kecepatan akses Internet yang memadahi dan spesifikasi komputer yang tidak enteng, hal ini disebabkan tak lain karena teknologi ini secara visual berbasis 3D. Sedangkan seperti yang kita tahu biaya akses Internet dengan kecepatan tinggi di Indonesia ini masih terbilang mahal bagi masyarakat umum. Belum lagi jika dihitung dari biaya spesifikasi perangkat komputer yang dibutuhkan, mungkin masyarakat Indonesia yang ingin menikmati kecanggihan layanan berbasis teknologi Web 3.0 masih harus menarik nafas penjang. Namun karena Web 3.0 sendiri masih dalam pengembangan, seiring dengan berlalunya waktu sebagai masyarakat Indonesia kita masih bisa mengharapkan bahwa biaya komunikasi, dalam hal ini koneksi Internet kecepatan tinggi akan semakin murah nantinya, sehingga terjangkau bagi masyarakat luas.
Web era ini bisa dibilang sangat care dengan kebutuhan kita karena menyediakan apa saja yang kita butuhkan. Contoh sederhana, dengan dukungan teknologi 3-D animasi, kita bisa membuat profil avatar sesuai karakter kita kemudian melakukan aktivitas di dunia maya layaknya kehidupan sehari-hari kita di dunia nyata, mulai dari jalan-jalan, ke mall, ke book store, bercakap-cakap dengan teman lain, dsb. Kalau bisa disimpulkan, Web 3.0 adalah dunia virtual kita. Dia mampu memberi saran dan nasehat untuk kita disamping menyediakan apa yang kita butuhkan. Memang, ini menjadi salah satu keunikan dari Web 3.0 karena konsep dasar yang digunakannya adalah manusia dapat berkomunikasi dengan mesin pencari. Misal, kita bisa meminta Web mencari suatu data spesifik tanpa perlu kita susah payah mencari satu per satu dalam situs-situs Web. Hasil yang diberikan pun juga relevan.

sumber :
web-2-0.infogue.com
www.diskusiweb.com

Web statis dan web dinamis & web 1.0 dan web 2.0

WEB STATIS DAN WEB DINAMIS

Web Statis

Web statis adalah sebuah web yang tampilan dan contentnya bersifat tetap dan tidak dapat diubah ubah secara realtime, biasanya web statis menekankan pada tampilan grafisnya yang indah dan bagus namun kontennya bersifat statis dan tidak update, web statis tidak memiliki database, dan apabila ada proses pengolahan data pada webstatis, pengolahan dilakukan pada computer client, server dari situs ini hanya mengirimkan script kepada browser client yang nanti akan diolah di computer client, atau disebut juga dengan “client side programming”, sehingga client dapat melihat script yang digunakan oleh website tersebut. Proses pembuatan web statis biasanya perancangan dan pembuatannya dilakukan secara offline dan apabila situs tersebut dianggap sudah siap untuk dipublish, web tersebut kemudian diupload kedalam sebuah server, dan server tersebut hanya bertugas menyimpan halaman web yang telah selesai dibuat tadi. Pada web statis biasanya menggunakan bahasa pemrograman web dasar seperti HTML dan javascript. Dan apa bila content pada webstatis ingin dirubah atau ditambahkan, perombakan ini tidak bisa dilakukan secara online, dan halaman yang sudah ada digantikan dengan halaman baru dengan konten yang baru.

Web Dinamis

Sedangkan Web dinamis adalah sebuah web yang tampilan dan contentnya bersifat dinamis dan dapat berubah secara realtime, content pada web dinamis lebih kaya bila dibandingkan dengan web statis, dan pada web dinamis biasanya tampilannya relative kurang menarik jika dibandingkan dengan web statis, pada web dinamis biasanya terdapat sebuah database dan segala pemrosesan data dan request dari client / pengakses dilakukan didalam server, dan client yang merequest hanya diberikan hasil pemrosesan data yang tadi diminta dalam bentuk sebuah halaman HTML,hal ini disebut juga dengan “server side programming”. Proses pembuatan web dinamis biasanya dilakukan dengan 2 tahap, yaitu tahap yang pertama adalah pembuatan layout dan design websitenya kemudian grafis dan layout tersebut di upload dan disimpan didalam sebuah server, sedangkan tahap kedua adalah pada pemrograman websitenya dan pembuatan kerangka kerja dari website tersebut. Pada website dinamis, apabila ada perubahan atau penambahan content website, dapat dilakukan secara online dan realtime, tanpa harus menggantikan halaman yang sudah ada. Bahasa pemrograman yang umum digunakan pada pembuatan web dinamis adalah php, asp, dll. Program ini yang nanti-nya aka menjawab semua request dari client.




WEB 1.0 DAN WEB 2.0


Web 1.0

Layanan web 1.0 ini seperti layanan website yang biasa, atau yang seperti dulu sampai sekarang ada. Di website ini, pengunjung hanya dapat membaca website ini, karna website ini hanya berkontent text. Dan para pengunjung tidak dapat berinteraksi di dalam websitenya, seperti member komentar, memberi informasi baru, menambahkan informasi, di website ini terletak adanya keterbatasan bagi para pengunjungnya. Dan untuk mengakses web 1.0, pengunjung harus secara direct menuju ke alamat websitenya, tidak bisa menggunakan layanan software seperti di desktop secara langsung. Di web 1.0, pengunjung hanya bisa membaca isi konten web tersebut, dan biasanya isi web 1.0 juga hanya merupakan informasi dari sebuah company, perusahaan, atau informasi lainnya. Isi dari web 1.0 diatur oleh pembuat web tersebut, seperti berisi HTML, advertising nya, dan direct link yang biasanya sudah diatur dan dibuat oleh pemilik web.

Web 2.0

Ada beberapa pihak mengatakan bahwa web 2.0 ini merupakan web seperti web social network atau jejaring social, dimana para penggunanya dapat berinteraksi dengan sesama pengguna ataupun dengan pemilik situsnya, yaitu seperti Facebook, Myspace, Multiply, atau lain sebagainya. Pengguna situs juga dapat melakukan perbuahan terhadap tampilan web tersebut, atau juga bisa merubah konten dari web tersebut, tidak ada keterbatasan interaksi di dalam web 2.0 dibanding dengan web 1.0 yang konten dan tampilan web nya hanya bisa dibaca saja.
O’Reilly dan MediaLive International menekankan bahwa Web 2.0 merupakan sebuah platform bagi aplikasi. Mereka mendeskripsikan hal ini sebagai sebuah software yang berjalan melalui media internet dengan bantuan web browser dan tidak perlu diinstalasi terlebih dahulu seperti software-software yang umumnya kita gunakan sehari-hari.
Kita dapat menjalankan program pengolah kata seperti Microsoft Word, serta mengubah dokumen dengan hanya mengunjungi situs yang menyediakan program tersebut. Karena program tersebut dapat dijalankan melalui web browser, kita tidak perlu melakukan instalasi program apapun di dalam komputer. Tidak hanya Microsoft word, tapi juga aplikasi Microsoft office lainnya, seperti Excel, Power Point, atau Outlook, bisa kita gunakan dalam web 2.0, dan semuanya berbasis web browser. Dan dengan adanya fitur seperti ini, maka kita dapat membuat dokumen secara langsung di dalam web browser tanpa harus melakukan instalasi kembali, dan tidak hanya itu, dokumen yang telah kita buat, dapat langsung kita share terhadap sesama pengguna situs tersebut. Seperti contohnya, google. Di google, kita bisa langsung membuka sebuah dokumen dalam bentuk power point, excel, maupun word, dan bisa juga langsung kita ubah isi dan konten dokumen tersebut.
Dengan adanya web 2.0, para produsen tidak perlu lagi memproduksi barang atau produknya dalam bentuk fisik, melainkan bisa dipromosikan di dalam web 2.0 ini, karena web sudah menjadi platform, dan pengguna tinggal mampir ke dalam web tersebut dan menjalankan aplikasi yang ingin digunakan. Dengan demikian web 2.0 juga berpotensi dalam bidang bisnis. Tidak perlu repot-repot lagi membuat promosi dalam bentuk fisik, tapi cukup dengan menaruh promosi tersebut didalam web.
Kunci Perbedaan
Menurut Wikipedia, yang menjadi kunci perbedaan dalam Web 2.0 dan Web 1.0 adalah keterbatasan pada Web 1.0 yang mengharuskan pengguna internet untuk datang ke dalam website tersebut dan melihat satu persatu konten di dalamnya. Sedangkan Web 2.0 memungkinkan pengguna internet dapat melihat konten suatu website tanpa harus berkunjung ke alamat situs yang bersangkutan. Selain itu, kemampuan Web 2.0 dalam melakukan aktivitas drag and drop, auto complete, chat, dan voice seperti layaknya aplikasi desktop, bahkan berlaku seperti sistem operasi, dengan menggunakan dukungan AJAX atau berbagai plug-in (API) yang ada di internet. Hal tersebut akan merubah paradigma pengembang sofware dari distribusi produk menjadi distribusi layanan. Sedangkan karakter lainnya, kolaborasi dan partisipasi pengguna, ikut membantu memperkuat perbedaan pada Web 2.0.

sumber kaskus

1990 – 2000 : Awal mula perkembangan internet.

World wide web pertama kali menemukan bentuknya di November 1990. Hingga tahun 1993, jaringan internet berkembang demikian pesatnya. Perkembangan jaringan internet up to (seperti promosi ISP saja :P ) 341,000%

Layanan yang internet kala itu masih berkisar diantara static website yang saling dihubungkan dengan hyperlink. Umumnya website berformat “brosur online” – website yang menyampaikan informasi satu arah – umumnya berbentuk profile, portal berita, toko online, layanan email, dll. Web kala itu dihuni oleh website-website yang di desain menggunakan table dan flash.

2000 : DotCom Bubble Burst, atau DotCom Crash, atau DotCOm Doom.

Tahun 1998, Google berdiri dan internet menjadi semakin mudah untuk dijamah. di kala itu potensi website dengan format portal berita dan toko online (seperti amazon.com) di lirik besar-besaran oleh investor. Di US, dana jutaan dollar diinvestasikan untuk masuk ke bidang online yang sayangnya, tidak semua website dengan modal jutaan dollar tadi dapat menghasilkan. Pada pertengahan 2000, gelembungan dana (bubble) yang masuk ke internet pecah (burst) juga. Dana yang masuk tidak berputar kembali menjadi keuntungan.

2001 – Sekarang: Web 2.0

Banyak perusahaan online tumbang di masa DotCom Bubble burst, namun banyak juga yang bertahan. Google, Yahoo, Amazon dan eBay adalah beberapa diantaranya. Kehancuran selalu menyisakan pemain berkualitas yang bertahan. Dari keruntuhan DotCom Bubble burst tersebut, wajah world wide web perlahan mulai berubah.

Di tahun 2001, wikipedia di luncurkan. Apple mendirikan iTunes. Di tahun 2002, friendster di luncurkan. Perlahan, world wide web mulai di huni oleh website – website dengan karakteristik yang berbeda dengan website – website yang eksis sebelum dotcom bubble burst. Website website tersebut memiliki satu ciri mencolok bernama partisipasi sehingga pada tahun 2003, istilah web 2.0 muncul

Istilah web 2.0 tidak mengklasifikasikan world wide web berdasarkan teknologinya, namun berdasarkan karakter website tersetbut. Istilah web 2.0 juga memunculkan istilah web 1.0: Satu istilah untuk era sebelum web 2.0

Pada garis besarnya, web 2.0 berbicara mengenai partisipasi. hubungan komunikasi many-to-many. Jika pada era web 1.0 (era sebelum web 2.0, dari 1990 hingga 2001) pengguna internet dengan mudah membrowse internet, namun pengadaan konten di internet masih ‘dikuasai’ oleh para geek yang menguasai bahasa HTML untuk membuat halaman web. Komunikasi yang terjadi pun hanya satu arah: dari pemilik website ke pengunjungnya. Pada era web 2.0, pengadaan konten di internet tidak lagi dikuasai oleh geek. Website – website yang digolongkan ke dalam kategori web 2.0 (kita akan menuliskan lebih rinci tentang web 2.0 di tulisan selanjutnya) memfasilitasi pengguna internet biasa untuk menuliskan konten mereka sendiri: Website sharing foto seperti flickr, blog service seperti wordpress.com, blogger.com, video sharing seperti YouTube, dll. Komunikasi pun terjadi secara dua arah, dimana pengunjung web juga bisa memberikan informasi.

Kedepannya?
Karena terciptanya web 2.0 (meski beberapa pihak setuju bahwa istilan web 2.0 hanyalah buzzword marketing semata, Web 2.0 tiada ubahnya adalah web itu sendiri) beberapa pihak memandang masa depan internet ebagai web 3.0 atau semantic web. Jika web 1.0 berbicara mengenai komunikasi satu arah, web 2.0 berbicara mengenai partisipasi dan komunikasi 2 arah, web 3.0 diperkirakan akan berbicara mengenai semantic web: web ‘cerdas’ yang memahami kebutuhan user berdasarkan history aktifitasnya di internet.

sumber fikri

Web 2.0, adalah sebuah istilah yang dicetuskan pertama kali oleh O’Reilly Media pada tahun 2003, dan dipopulerkan pada konferensi web 2.0 pertama di tahun 2004. nah disini saya mencoba mencari referensi yang lebih detai tentang web 1.0, 2.0, dan 3.0 yang berupa video yang saya ambil dari youtube.

Perbandingan Aplikasi Web 1.0 dengan Web 2.0

Sebenarnya tidak ada kesepakatan adanya versi dalam aplikasi web, namun untuk memudahkan pembahasan dan menandai munculnya perkembangan teknologi web, banyak praktisi yang memberi label Web 1.0 dan Web 2.0. Perbandingan di bawah ini dibuat dari berbagai sumber agar dapat menjelaskan perbedaan antara Web 1.0 dengan Web 2.0 dengan lebih sistematis.

No. Perbandingan Web 1.0 Web 2.0
1 Perilaku pengguna Membaca Menulis
2 Pelaku utama Perusahaan Pengguna/Komunitas
3 Hubungan dengan server Client-server Peer to peer
4 Bahasa pemrograman penampil konten HTML XML
5 Pola hubungan penerbit-pengguna Searah Dua arah/ Interaktif
6 Pengelolaan konten Taksonomi/direktori Folksonomi/penanda/tag
7 Penayangan berbagai kanal informasi Portal RSS/Sindikasi
8 Hubungan antar pengakses Tidak ada Berjejaring
9 Sumber konten Penerbit/pemilik situs Pengguna

Perbandingan aplikasi Web 1.0 dengan Web 2.0 digambarkan Chris Wolz (2008) dalam sebuah presentasi seminar tentang Web 2.0 dan Media Sosial seperti pada gambar [1]. Ia menggambarkan hubungan yang searah, statis, dan saling berdiri sendiri antara pemilik/penerbit situs dengan pembacanya dengan fokus adalah “saya” sebagai pemilik situs dan situs itu sendiri. Dalam aplikasi Web 2.0, terdapat hubungan yang saling berjejaring antara pemilik maupun pembaca, bahkan “Anda” sebagai pembaca adalah fokus.
[1] Chris Wolz, “Web 1.0 vs Web 2.0: It’s All About You”, Presentasi pada Web Executive Seminar: Social Sites for Social Goods, 26 Februari 2008

wikipedia.com

Perkembangan Disain Websites dari Web 1.0 ke Web 2.0

. Kamis, Mei 13, 2010 .

Sebuah website yang sukses adalah website yang berhasil menarik banyak pengunjungnya untuk kembali. Pengalaman yang baik akan membuat pengguna kembali, dan sebaliknya, pengalaman buruk dengan website akan membuat pengguna malas untuk kembali. Banyak faktor yang ikut menentukan pengalaman baik yang dirasakan pengguna ketika masuk ke dalam sebuah website, antara lain kemudahan mencari informasi (tata letak, pilihan menu, fasilitas search, dan sebagainya) dan faktor-faktor pendukung seperti disain grafik dan layout website tersebut. Konten yang jelas, informatif, akurat, up to date, dan berkualitas tinggi menjadi hal utama yang menentukan kualitas sebuah website, namun bukan hanya itu yang perlu diperhatikan. Disain yang menarik, mudah dimengerti dan dipahami pengguna juga merupakan hal penting yang patut diperhatikan.Website diperkenalkan kepada masyarakat umum pada tahun 1991, dan mengalami banyak perkembangan setelah itu. Website saat itu sering digunakan perusahaan untuk memasarkan produk/perusahaannya. Akan tetapi, sampai akhir tahun 2000, banyak investor yang merasa dirugikan karena telah mengucurkan dananya kepada perusahaan-perusahaan web kecil yang tidak terbukti mengembalikan modal, sehingga pada akhirnya gelombang investasi spekulatif mulai meledak dan kejadian dot-com bubble burst pada tahun 2001, yang kemudian dianggap sebagai titik balik dari internet dan world wide web. Menurut O'Reilly perusahaan-perusahaan web yang berhasil selamat dari ledakan tersebut memiliki pendekatan yang lebih baik. Perusahaan yang sekarang berkembang setelah dot-com crashed, mendapatkan pelajaran penting dari perusahaan-perusahaan Web 1.0 yang saat ini telah gugur.
Saat ini para desainer melakukan desain Web tidak hanya berkonsentrasi untuk merancang website untuk penjualan beberapa produk, tetapi membuat mereka lebih menarik dan interaktif serta untuk berbagi informasi melalui flogs dan masyarakat. Pengembangan web 2.0 telah melakukan keajaiban dalam membawa orang lebih dekat satu sama lain dalam hal komunikasi. Menurut Tim O’Reilly, website harusnya dapat menyediakan pengalaman yang menyenangkan bagi pengunjung web, sehingga mereka akan tertarik untuk kembali ke halaman itu lagi. Beberapa strategi yang dinggap sebagai filosofi Web 1.0:
• Web 1.0 bersifat statis. Web site mengandung informasi yang mungkin berguna, namun tidak ada alasan bagi pengunjung web untuk kembali ke halaman tersebut nantinya. Contohnya halaman web personal yang berisikan informasi mengenai pemilik web, yang tidak pernah berubah. Jadi pengunjung cukup satu kali membuka halaman tersebut dan tidak akan kembali lagi. Versi web personal di web 2.0 berbeda, tidak statis, dan diupdate dalam frekuensi tertentu, seperti blog atau akun myspace.
• Web site 1.0 tidak interaktif. Pengunjung hanya dapat mengunjungi halaman web, tapi mereka tidak bisa memberikan dampak atau kontribusi apapun ke dalam web tersebut. Sementara pada web 2.0, contohnya Wikipedia, pengunjung dapat memberikan kontribusinya dan memberikan perubahan terhadap web site tersebut, sehingga pengguna merasakan keterlibatan yang menarik.
• Aplikasi Web 1.0 hanya dapat diakses oleh pemilik. Dalam filosofi web 1.0, perusahaan mengembangkan aplikasi software yang dapat didownload oleh pengguna, namun mereka tidak dapat melihat bagaimana aplikasi tersebut bekerja, atau merubahnya. Sementara aplikasi dalam web 2.0 merupakan program open source, sehingga kode source dari program tersebut tersedia secara Cuma-Cuma. Pengguna dapat melihat bagaimana aplikasi bekerja, dan membuat modifikasi atau bahkan membangun aplikasi baru yang didasarkan pada program sebelumnya. Contoh browser pada era web 1.0 yang bersifat proprietary (hanya dapat diakses pemilik) adalah Netscape Navigator. Sementara, pada masa web 2.0, Mozilla Firefox mengikuti filosofi web 2.0 dan menyediakan developer dengan semua peralatan yang dibutuhkan untuk membuat aplikasi Firefox baru.
Sementara itu, Web 2.0 biasanya memiliki fitur-fitur dan teknik di bawah ini, yang disingkat SLATES oleh Andrew McAfee:
• Search
Menemukan informasi dengan menggunakan pencarian keyword atau kata kunci tertentu.
• Links
Menghubungkan halaman-halaman yang memiliki informasi terkait.
• Authoring
Kemampuan menciptakan dan mengupdate konten yang memicu kerja kolaboratif antara banyak penulis web sekaligus.
• Tags
Mengkategorikan konten dalam website dengan label tertentu.
• Extensions
Software yang dapat membuat web sebagai platform aplikasi sekaligus server dokumen.
• Signals
Penggunaan sindikasi teknologi, seperti RSS untuk memberitahu pengguna akan pergantian konten yang terjadi.

Pergantian dari web 1.0 ke web 2.0 dapat disebabkan oleh faktor demografis dan perkembangan teknologi, seperti penyebaran internet yang begitu luas di seluruh penjuru dunia (sekitar satu milyar orang memiliki akses internet), jumlah mobile devices mengalahkan desktop computer, dan berkembangnya akses internet melalui koneksi broadband yang selalu menyala.
Selain penyesuaian kepada perkembangan internet dan teknologi, pergeseran dari Web 1.0 ke Web 2.0 merupakan akibat langsung dari perubahan perilaku orang-orang yang menggunakan World Wide Web. Tren web 1.0 termasuk kekhawatiran akan privasi yang menyebabkan arus informasi satu arah, melalui website yang berisi materi yang hanya bisa dibaca. Keluasan buta-komputer dan koneksi internet yang lambat menjadi salah satu keterbatasan internet, yang dicirikan oleh Web 1.0. Sekarang, selama penggunaan Web 2.0, Web digunakan dapat dikarakterisasikan sebagai desentralisasi konten Website, yang sekarang dihasilkan dari "bottom-up", dengan banyaknya pengguna yang menjadi kontributor dan produsen informasi, serta konsumen tradisional.



REFERENSI

Chaffey, D., Mayer, R., Johnston, K., dan Ellis-Chadwick, F. 2000. Internet Marketing: Strategy, Implementation and Practice, First Published, London: Prentice-Hall, Inc.
Musser, John., Tim O’Reilly. 2006. Web 2.0 Principles and Best Practices. O Reilly Radar.
Websites:
Choo, John. What is the Different between Web 1.0 Vs Web 2.0 Design - A Detailed Comparison http://ezinearticles.com/?What-is-the-Different-Between-Web-1.0-Vs-Web-2.0-Design---A-Detailed-Comparison&id=2573948
O'Reilly, Tim. (2005). What is Web 2.0: Design Patterns and Business Models for the Next Generation of Software. Retrieved 3 September, 2008 from http://www.oreillynet.com/pub/a/oreilly/tim/news/2005/09/30/what-is-web-20.html
Strickland, Jonathan. Is there a Web 1.0? http://computer.howstuffworks.com/web-101.htm
http://www.uic.edu/htbin/cgiwrap/bin/ojs/index.php/fm/article/view/2125/1972

0 Response to "Pengembangan Teknologi 8"

Poskan Komentar